Sabtu, 05 September 2015

Demi Ali Mama Ammi Rela Jadi Buta dan Tuli Permanen

Polewali Mandar - Muhammad Ali (7 tahun), bocah lincah dan pintar ini tinggal di Sebuah dusun kecil di Pedalaman kabupaten Polewali Mandar Provinsi Sulawesi Barat. Berjarak sekitar 15 Km dari poros Jalan Trans Sulawesi dan kira-kira 350 Km dari kota Makassar. Lahir dari keluarga serba terbatas, Ali terpaksa harus tumbuh dewasa sebelum waktunya. Apalagi saat ibunya, Ammi (41 tahun), harus rela mengalami kebutaan dan tuli permanen. Ketika itu, Ali masih berumur lima tahun.
Ali dan Mama Ammi
Kisah Mama Ammi (panggilan Ali untuk ibunya) seolah sebuah drama sedih yang dimainkan dalam drama-drama sinetron kita belakangan ini. Namun ini bukanlah cerita fiksi semata yang memotren perjalanan kehidupan anak manusia. Ia nyata dan apa adanya. Kepiluan nan duka yang dirasakan Mama Ammi harus lebih lagi ketika ayah Si Ali meninggal dunia setahun lebih silam. Ammi pun harus rela banting tulang demi membesarkan tiga buah hatinya yang masih kecil-kecil dan lugu.Ada kisah Jumaria, dia adalah kakak Ali. Terlahir lahir dalam keadaan normal, namun karena suatu kecelakaan menyebkan Jumaria harus menanggung cacat mental atau mungkin yang lazim disebut tuna grahita. Sebenarnya tidak ada penelitian dokter atau siapapun yang meyakinkan 100% bahwa Jumaria itu cacat mental karena suatu kecelakaan, tetapi Mama Ammi meyakininya demikian. Saat ini umur Jumaria sudah menginjak 13 tahun, namun tidak bisa berbuat banyak untuk membantu mamanya lantaran cacat mental yang dialaminya. Sedang satu adik Ali lainnya bernama Aris, kini baru berumur empat tahun. Dia masih terlalu kecil untuk dapat membantu ibunya menantang ganasnya gelombang kehidupan. Sebagai anak tuna grahita, tentunya Jumaria tidak bisa hidup mandiri. Ia memiliki kelemahan dalam bernalar dan tentu berfikir. Akibatnya ia sulit melakukan adaptasi sosial, hal ini membuat Ammi harus rela menanggung beban berat meski ia hanyalah seorang perempuan kampung yang tidak punya banyak pengetahuan. Jumaria tidak mampu sekolah, dia tuli, dia bisu dan hanya mampu menatap tajam entah apa maksudnya sambil terseyum-senyum bahkan tak ayal terbahak-bahak. Tinggallah ia bagaikan dedaun terbang yang setiap waktu entah jatuh dimana. Kadang Jumaria harus terdampar di rumah orang.Dari hasil penelusuran wartawan (4/9/2015) di dusun Biru desa Batetangnga kecamatan Binuang kabupaten Polewali Mandar Sulbar, dimana mama Ammi tinggal bersama ketiga anaknya saat ini, terungkap bahwa sebelum meninggal dunia ayah Ali telah menikah delapan kali. Dan Ammi adalah istri ke delapan darinya. Ammi sekaligus istri terakhir mendiang ayah Ali itu. Itulah sebabnya sebelum meninggal ayah Ali juga tidak banyak membantu perjuangan Ammi membesarkan anak-anaknya. Hal ini karena Sang Ayah tersebut tinggal bersama dengan istrinya yang lain.  Dan Sang Suami hanya bisa menyisihkan sedikit waktu untuk Ammi dan ketiga anaknya.“Dia dulu tinggal di sana, di istri ketiganya”, kata Ammi sambil menunjuk ke arah kampung sebelah.Ammi telah mengalami kebutaan dan tuli permanen waktu suami masih hidup. Kondisi penglihatan dan pendengaran Mama Ammi yang tidak berfungsi itu menyebabkan siapapun akan sulit untuk mengorek informasi lebih jauh tentang kisah masa lalunya dengan mendiang suaminya. Namun, entah mengapa Si Ali, anak kedua darinya mampu berkomonikasi baik dengan Ammi? Tidak ada yang bisa memberikan kepastiaan jawabannya, namun faktanya memang begitu, Ammi mampu menangkap ketika Ali berbicara padanya.Wartawan yang hendak bertanya kepada mama Ammi hanya bisa meraih respon balik ketika Ali meneruskan pertanyaaan itu ke Ibunya. Ada semacam telepati antara Ali dan ibunya. Ya begitu kira-kira. Kita akan meyakini betapa kuasa Tuhan telah memainkan perjalanan kehidupan hamba-hambanya, hingga seorang anak manusia yang masih lugu, Muhammad Ali, di usianya yang baru menginjak tujuh tahun tetapi harus menjadi tumpuan harapan keluarganya. Ali lahir dari kemalangan, dibesarkan oleh derita dan kini harus dewasa menghadapi tantangan hidup yang penuh tetesan air mata. Beruntunglah beberapa orang dermawan telah sudi mengusap air mata derita yang sekian tahun dialami keluarga Ali. Beberapa bantuan telah disalurkan para dermawan itu, mulai dari kebutulan sehari-hari berupa makanan, biaya sekolah hingga renovasi rumah milik Ali sehingga kini tidak lagi tinggal di Sebuah gubuk penderitaan.Sang ibu atau Mama Ammi menuturkan dirinya pernah dilanda sakit parah hingga matanya mulai kabur dan akhirnya buta. Begitu pula pendengarannya yang mulai tertanggu, lantaran kejamnya arus kehidupan yang dilaluinya. Tantangan arus gelombang kehidupan dihadapinya dengan banting tulang. Bekerja keras, mulai dari mengumpulkan kayu, menjadi buruh tani hingga berjalan kaki naik-turun gunung dengan memikul beban berat untuk menghidupi anak-anaknya ditengaraih menjadi sebab utama hingga Ammi harus kehilangan pendengaran dan tak mampu melihat apapun hingga kini. Dokterpun tidak punya cara untuk menyembuhkan penyakit itu, dia divonis buta dan tuli permanen.Sangat sulit dibayangkan bagaimana penderitaan mama Ammi saat dia harus sendiri menjadi ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Melalui Si anak cerdas bernama lengkap Muhammad Ali itulah, kita bisa mengorek sedikit kisah kepiluan darinya. Ia memulai kisahnya ketika masih hidup sebagai seorang gadis. Dengan wajah yang mungkin bagi banyak pemuda menjadi idola di Kampung, Ammi menjadi bidikan banyak lelaki di zamannya. Namun entah mengapa ia jatuh kepada Si Tua hebat kolektor wanita. Ayah Ali itu. Meskipun lelaki itu sudah berpunya tujuh mahar kawin.“Dulu memang banyak cowokku. Tapi tidak kutau kenapa saya bisa sama Bapaknya Ali, padahal saya istri yang kedelapan”, sebut Ammi dengan suara rendah seolah mengenang kisahnya yang sudah-sudah.“Ada yang bilang saya kena guna-guna. Tidak tahu lah”, lanjutnya.Puncak kesedihannya nampak tak terbendung lagi ketika menceritakan sebuah peristiwa yang menyebabkan anaknya Jumaria harus mengalami cacat mental. Jumaria yang ketika itu baru berumur tiga tahun ditinggal sendiri karena Ammi bekerja di kebun sebagai suruhan, ia tidak menyadari kalau anaknya sudah mampu berlari-lari akhirnya kemudian menyebabkan si kecil itu terjatuh dari rumah panggung milik tetangga. Benturan benda keras yang mengenai kepalanya kemudian diyakini Ammi sebagai penyebab Jumaria menjadi cacat mental seumur hidup.
Ali dan keluarga
            Soal Ali, Mama Ammi tidak bisa bercerita banyak tentangnya. Ketika wartawan menyuruh Ali menanyakan bagaimana rasa cinta dan kasih sayang Ammi pada Ali, Mama hanya bisa memeluk bocah lincah itu dengan erat-seeratnya lalu mencurahkan air mata kesedihannya yang nampak membasahi pipinya. Tidak ada kata yang keluar, mama hanya bisa memeluk Ali, anak lincahnya yang kini mulai tumbuh dewasa.           “Mama, apakah mama sayang sama saya”? Ali melanjutkan pertanyaan wartawan pada Ammi. Namun Mama Ammi hanya mampu membisu dan semakin eratlah Ia memeluk anaknya. Ia mengangguk, mencurahkan kesedihannya yang nampak jelas terpancar dari wajahnya itu. Wartawan tak lupa pula mengorek sedikit kisah kehidupan mama Ammi saat Ali dan kedua saudaranya masih kecil dan ditinggal pergi ayahnya pada Ibu Seniwati, S. Pd.I guru kelas Muhammad Ali di Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Biru kabupaten Polman. Menurut pengamatan Seniwati, antara Ali dan Mamanya ada semacam telepati itu yang mampu menguatkan keduanya. “Dulu waktu Ali masih kecil, kira-kira berumur tiga tahun, Ammi masih normal. Nanti di umur yang kelima tahun Ali harus menerima Mamanya dengan kondisi buta dan tuli”, sebut Seni. “Mereka tinggal di sebuah gubuk di sana, di ujung kampung”, sebutnya.            “Sekarang dengan kondisi buta, Ali dan Mamanya selalu bersama-sama. Kalau ada pekerjaan, misalnya membuat sapu lidi untuk dijual ke pasar, Mama Ammi mengarahkan Ali untuk melakukannya. Begitupun kalau memasak, Ammi menyuruh Ali dan mengawasinya selalu. Meskipun dia tidak melihat tapi dia tahu apa yang sedang dikerjakan Ali ”, terang Seniwati.          “Kalau di Sekolah, Ali tergolong anak yang pintar. Kita bisa dengan mudah berkomunikasi padanya. Kalau dipikir-pikir ya, usianya masih sangat muda tapi kita seperti berbicara sama orang dewasa”, ungkap Seni.Seniwati dan guru-guru yang lain di Sekolah juga bisa memaklumi kondisi Ali dan keluarganya. Pihak sekolah tidak permasalahkan jika hampir setiap hari Ali selalu terlambat datang ke Sekolah, lantaran setiap paginya Ali harus mengurus banyak di Rumah sebelum Ia pergi ke Sekolah. Ali harus memasak dulu buat Mama dan Jumaria, juga untuk adiknya Aris. Ali jua harus mengurus rumah dan memastikan mama siap ditinggal untuk pergi ke Sekolah. Jika suatu ketika Ali pulang sekolah dan tidak ada makanan, maka ia harus bersabar dan memasak nasi sendiri untuk dia dan keluarganya. Kini Ali baru kelas I (satu) di MIS, tetapi hati, jiwa, pikiran dan tingkahnya jauh berbeda dengan anak-anak seusia SD lainnya di luar sana.Jika cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi yang dalam konteks filosofi cinta ini merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Lalu cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apa pun yang diinginkan objek tersebut. Maka di situlah Muhammad Ali terhadap Ibunya, Mama Ammi.
Dari kisah Ali dan Ammi ini, kita dapat menarik sebuah titik bahwa cinta dan kasih sayang manusia telah hadir dan mengharu biru di dusun Biru ini. Kita bisa belajar satu hal, bahwa dengan cinta kita akan hidup. (hm3)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar