Polewali Mandar - Muhammad Ali (7 tahun), bocah
lincah dan pintar ini tinggal di Sebuah dusun kecil di Pedalaman kabupaten Polewali
Mandar Provinsi Sulawesi Barat. Berjarak sekitar 15 Km dari poros Jalan Trans
Sulawesi dan kira-kira 350 Km dari kota Makassar. Lahir dari keluarga serba
terbatas, Ali terpaksa harus tumbuh dewasa sebelum waktunya. Apalagi saat
ibunya, Ammi (41 tahun), harus rela mengalami kebutaan dan tuli permanen. Ketika
itu, Ali masih berumur lima tahun.
 |
| Ali dan Mama Ammi |
Kisah Mama
Ammi (panggilan Ali untuk ibunya) seolah sebuah drama sedih yang dimainkan
dalam drama-drama sinetron kita belakangan ini. Namun ini bukanlah cerita fiksi
semata yang memotren perjalanan kehidupan anak manusia. Ia nyata dan apa
adanya. Kepiluan nan duka yang dirasakan Mama Ammi harus lebih lagi ketika ayah
Si Ali meninggal dunia setahun lebih silam. Ammi pun harus rela banting tulang
demi membesarkan tiga buah hatinya yang masih kecil-kecil dan lugu.Ada kisah Jumaria,
dia adalah kakak Ali. Terlahir lahir dalam keadaan normal, namun karena suatu
kecelakaan menyebkan Jumaria harus menanggung cacat mental atau mungkin yang
lazim disebut tuna grahita. Sebenarnya tidak ada penelitian dokter atau
siapapun yang meyakinkan 100% bahwa Jumaria itu cacat mental karena suatu
kecelakaan, tetapi Mama Ammi meyakininya demikian. Saat ini umur Jumaria sudah
menginjak 13 tahun, namun tidak bisa berbuat banyak untuk membantu mamanya lantaran
cacat mental yang dialaminya. Sedang satu adik Ali lainnya bernama Aris, kini
baru berumur empat tahun. Dia masih terlalu kecil untuk dapat membantu ibunya
menantang ganasnya gelombang kehidupan. Sebagai anak tuna grahita, tentunya Jumaria
tidak bisa hidup mandiri. Ia memiliki kelemahan dalam bernalar dan tentu berfikir.
Akibatnya ia sulit melakukan adaptasi sosial, hal ini membuat Ammi harus rela
menanggung beban berat meski ia hanyalah seorang perempuan kampung yang tidak
punya banyak pengetahuan. Jumaria tidak mampu sekolah, dia tuli, dia bisu dan
hanya mampu menatap tajam entah apa maksudnya sambil terseyum-senyum bahkan tak
ayal terbahak-bahak. Tinggallah ia bagaikan dedaun terbang yang setiap waktu
entah jatuh dimana. Kadang Jumaria harus terdampar di rumah orang.Dari hasil
penelusuran wartawan (4/9/2015) di dusun Biru desa Batetangnga kecamatan
Binuang kabupaten Polewali Mandar Sulbar, dimana mama Ammi tinggal bersama
ketiga anaknya saat ini, terungkap bahwa sebelum meninggal dunia ayah Ali telah
menikah delapan kali. Dan Ammi adalah istri ke delapan darinya. Ammi sekaligus istri
terakhir mendiang ayah Ali itu. Itulah sebabnya sebelum meninggal ayah Ali juga
tidak banyak membantu perjuangan Ammi membesarkan anak-anaknya. Hal ini karena
Sang Ayah tersebut tinggal bersama dengan istrinya yang lain. Dan Sang Suami hanya bisa menyisihkan sedikit
waktu untuk Ammi dan ketiga anaknya.“Dia dulu tinggal di sana, di istri
ketiganya”, kata Ammi sambil menunjuk ke arah kampung sebelah.Ammi telah
mengalami kebutaan dan tuli permanen waktu suami masih hidup. Kondisi penglihatan
dan pendengaran Mama Ammi yang tidak berfungsi itu menyebabkan siapapun akan
sulit untuk mengorek informasi lebih jauh tentang kisah masa lalunya dengan
mendiang suaminya. Namun, entah mengapa Si Ali, anak kedua darinya mampu
berkomonikasi baik dengan Ammi? Tidak ada yang bisa memberikan kepastiaan
jawabannya, namun faktanya memang begitu, Ammi mampu menangkap ketika Ali
berbicara padanya.Wartawan
yang hendak bertanya kepada mama Ammi hanya bisa meraih respon balik ketika Ali
meneruskan pertanyaaan itu ke Ibunya. Ada semacam telepati antara Ali dan
ibunya. Ya begitu kira-kira. Kita akan meyakini betapa kuasa Tuhan telah
memainkan perjalanan kehidupan hamba-hambanya, hingga seorang anak manusia yang
masih lugu, Muhammad Ali, di usianya yang baru menginjak tujuh tahun tetapi harus
menjadi tumpuan harapan keluarganya. Ali lahir dari kemalangan, dibesarkan oleh
derita dan kini harus dewasa menghadapi tantangan hidup yang penuh tetesan air
mata. Beruntunglah beberapa orang dermawan telah sudi mengusap air mata derita
yang sekian tahun dialami keluarga Ali. Beberapa bantuan telah disalurkan para
dermawan itu, mulai dari kebutulan sehari-hari berupa makanan, biaya sekolah
hingga renovasi rumah milik Ali sehingga kini tidak lagi tinggal di Sebuah
gubuk penderitaan.Sang ibu
atau Mama Ammi menuturkan dirinya pernah dilanda sakit parah hingga matanya
mulai kabur dan akhirnya buta. Begitu pula pendengarannya yang mulai tertanggu,
lantaran kejamnya arus kehidupan yang dilaluinya. Tantangan arus gelombang
kehidupan dihadapinya dengan banting tulang. Bekerja keras, mulai dari
mengumpulkan kayu, menjadi buruh tani hingga berjalan kaki naik-turun gunung
dengan memikul beban berat untuk menghidupi anak-anaknya ditengaraih menjadi
sebab utama hingga Ammi harus kehilangan pendengaran dan tak mampu melihat
apapun hingga kini. Dokterpun tidak punya cara untuk menyembuhkan penyakit itu,
dia divonis buta dan tuli permanen.Sangat
sulit dibayangkan bagaimana penderitaan mama Ammi saat dia harus sendiri
menjadi ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Melalui Si anak cerdas bernama
lengkap Muhammad Ali itulah, kita bisa mengorek sedikit kisah kepiluan darinya.
Ia memulai kisahnya ketika masih hidup sebagai seorang gadis. Dengan wajah yang
mungkin bagi banyak pemuda menjadi idola di Kampung, Ammi menjadi bidikan
banyak lelaki di zamannya. Namun entah mengapa ia jatuh kepada Si Tua hebat
kolektor wanita. Ayah Ali itu. Meskipun lelaki itu sudah berpunya tujuh mahar
kawin.“Dulu memang banyak cowokku. Tapi
tidak kutau kenapa saya bisa sama Bapaknya Ali, padahal saya istri yang
kedelapan”, sebut Ammi dengan suara rendah seolah mengenang kisahnya yang
sudah-sudah.“Ada yang bilang saya kena
guna-guna. Tidak tahu lah”, lanjutnya.Puncak kesedihannya nampak tak
terbendung lagi ketika menceritakan sebuah peristiwa yang menyebabkan anaknya
Jumaria harus mengalami cacat mental. Jumaria yang ketika itu baru berumur tiga
tahun ditinggal sendiri karena Ammi bekerja di kebun sebagai suruhan, ia tidak
menyadari kalau anaknya sudah mampu berlari-lari akhirnya kemudian menyebabkan
si kecil itu terjatuh dari rumah panggung milik tetangga. Benturan benda keras
yang mengenai kepalanya kemudian diyakini Ammi sebagai penyebab Jumaria menjadi
cacat mental seumur hidup.
 |
| Ali dan keluarga |
Soal
Ali, Mama Ammi tidak bisa bercerita banyak tentangnya. Ketika wartawan menyuruh
Ali menanyakan bagaimana rasa cinta dan kasih sayang Ammi pada Ali, Mama hanya
bisa memeluk bocah lincah itu dengan erat-seeratnya lalu mencurahkan air mata
kesedihannya yang nampak membasahi pipinya. Tidak ada kata yang keluar, mama
hanya bisa memeluk Ali, anak lincahnya yang kini mulai tumbuh dewasa. “Mama,
apakah mama sayang sama saya”? Ali melanjutkan pertanyaan wartawan pada Ammi.
Namun Mama Ammi hanya mampu membisu dan semakin eratlah Ia memeluk anaknya. Ia
mengangguk, mencurahkan kesedihannya yang nampak jelas terpancar dari wajahnya
itu. Wartawan
tak lupa pula mengorek sedikit kisah kehidupan mama Ammi saat Ali dan kedua
saudaranya masih kecil dan ditinggal pergi ayahnya pada Ibu Seniwati, S. Pd.I
guru kelas Muhammad Ali di Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Biru kabupaten
Polman. Menurut pengamatan Seniwati, antara Ali dan Mamanya ada semacam telepati
itu yang mampu menguatkan keduanya. “Dulu
waktu Ali masih kecil, kira-kira berumur tiga tahun, Ammi masih normal. Nanti
di umur yang kelima tahun Ali harus menerima Mamanya dengan kondisi buta dan
tuli”, sebut Seni. “Mereka
tinggal di sebuah gubuk di sana, di ujung kampung”, sebutnya. “Sekarang
dengan kondisi buta, Ali dan Mamanya selalu bersama-sama. Kalau ada pekerjaan,
misalnya membuat sapu lidi untuk dijual ke pasar, Mama Ammi mengarahkan Ali
untuk melakukannya. Begitupun kalau memasak, Ammi menyuruh Ali dan mengawasinya
selalu. Meskipun dia tidak melihat tapi dia tahu apa yang sedang dikerjakan Ali
”, terang Seniwati. “Kalau
di Sekolah, Ali tergolong anak yang pintar. Kita bisa dengan mudah
berkomunikasi padanya. Kalau dipikir-pikir ya, usianya masih sangat muda tapi
kita seperti berbicara sama orang dewasa”, ungkap Seni.Seniwati dan guru-guru yang lain di
Sekolah juga bisa memaklumi kondisi Ali dan keluarganya. Pihak sekolah tidak
permasalahkan jika hampir setiap hari Ali selalu terlambat datang ke Sekolah,
lantaran setiap paginya Ali harus mengurus banyak di Rumah sebelum Ia pergi ke
Sekolah. Ali harus memasak dulu buat Mama dan Jumaria, juga untuk adiknya Aris.
Ali jua harus mengurus rumah dan memastikan mama siap ditinggal untuk pergi ke Sekolah.
Jika suatu ketika Ali pulang sekolah dan tidak ada makanan, maka ia harus
bersabar dan memasak nasi sendiri untuk dia dan keluarganya. Kini Ali baru
kelas I (satu) di MIS, tetapi hati, jiwa, pikiran dan tingkahnya jauh berbeda
dengan anak-anak seusia SD lainnya di luar sana.Jika cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat
dan ketertarikan pribadi yang dalam konteks filosofi cinta ini merupakan sifat
baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Lalu
cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek
lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu,
menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apa pun yang diinginkan
objek tersebut. Maka di situlah Muhammad Ali terhadap Ibunya, Mama
Ammi.
Dari kisah Ali dan Ammi ini, kita dapat menarik sebuah titik bahwa cinta
dan kasih sayang manusia telah hadir dan mengharu biru di dusun Biru ini. Kita
bisa belajar satu hal, bahwa dengan cinta kita akan hidup. (hm3)