Jatuhnya rezim
orde baru 21 Mei tahun 1998 tak hanya ditandai dengan berubahnya wajah
birokrasi pemerintah, tetapi juga dengan munculnya wajah baru parlemen pusat
maupun daerah.
Wajah baru itu adalah kaum muda . Setelah
kurang lebih 32 tahun lamanya pemuda atau kaum muda relatif kosong megisi
pentas politik Indonesia di bawah rezim otoritarian penguasa orba, tiba-tiba
saja jadi sok dan waoh di jagat politik.
Sebenarnya, kekita kita flashback jauh kebelakang, sejarah
dinamika perpolitikan Indonesia tak bisa dilepaskan dari kalangan muda. Para founding fathers bangsa kita, sebut saja
Soekarno, Hatta, Syahrir dan Natsir adalah sosok muda yang membuktikan
kiprahnya di ranah politik pra dan pasca kemerdekaan. Sehingga perlu digaris
bawahi bahwa dalam jagat politik bangsa ini pengaruh dan peran kaum muda memang
tidak bisa dinafikan kerap memberi warna dalam gerak dan arah bangsa.
Namun,
di zaman otoritarian orde baru, kaum muda nampaknya cenderung pasif dan nyaris
tak pernah tampil di didepan pentas politik praktis dan justru kebanyakan
berada berteriak di luar parlemen. Beruntunglah rezim orde baru dapat disudahi
sehingga angin segarpun mulai menghembuskan aroma baru akan lahirnya para
politisi muda dalam peta perpolitikan nasional maupun lokal. Dan kini benar
telah terbukti, bahwa setelah enam belas tahun reformasi bergulir, jagat
politik tanah air semakin riuh dengan munculnya berbgai macam pemikiran dan
daya inovatif yang dibawah oleh kalangan muda bangsa ini.
Berbagai
macam lontaran ide, serta kerja inovatif yang pada umumnya digagas oleh para
politisi muda ini telah membawa ruang yang sangat luas kepada dialektika
politik secara langsung dan mempunyai dampak besar pada kematangan demokrasi
berbangsa dan bernegara. Karena itulah, apresiasi positif nampaknya harus kita
sematkan kepada para politisi muda negeri ini.
Sederet nama tokoh muda pun patut menjadi
catatan era politik masa kini, sebut saja misalnya Puan Maharani, Edi Baskoro
Yudhoyono, Fadli Zoon, Anas Urbanigrum, Fahri Hamzah, Budiman Sujatmiko dan
tokoh muda lainnya yang kini turut serta mewarnai panggung perpolitikan pacsa
orde baru.
Dalam
konteks lokal misalnya, di Sulbar kita tahu dan mengenal sejumlah politisi muda
antara lain Muhammad Asri Anas, dan Iskandar Muda Baharuddin Lopa (anggota
DPD-RI Perwakilan Sulbar), Suraidah Suhardi, Munandar Wijaya, Suksri Umar dan
masih banyak lainnya.
Para
politisi muda yang kian hari secara kuantitas kian bertambah, dan tentu
diharapkan semakin kreatif-inovatif dalam mendorong kemajuan daerah bangsa dan
negara, tentu saja rakyat semakin besar menaruh harapan kepada mereka. Dan
tentu tak dapat pula dipungkiri bahwa rakyat kian menaruh kepercayaan kepada
mereka para politisi muda itu karena terbukti rakyat memberi mandatnya duduk di
parlemen.
Alasannya
jelas, politisi muda relatif masih sangat segar, kuat dan memeliki daya mobilitas
tinggi terhadap upaya perjuangan kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat yang
diwakilinya serta yang lebih utama kaum muda selalu bicara lantang soal
cita-cita masa depan dengan instrumen idealisme pemuda. Pemuda dalam konteks
ini, telah mendedikasikan diri sebagai agent
of change sekaligus pemilik tunggal masa depan daerah bangsa dan negara.
Terlepas
dari dinamika baru perpolitikan tanah air pasca orde baru dan hadirnya dominasi
pemuda dalam perpolitikan Indonesia,
telah muncul pula berbagai macam argumentasi dan persepsi publik soal
kaum muda di pentas politik.
Ada
hal menarik yang perlu dicermati, yakni ketika seorang pemuda yang lahir dan
besar dari gerakan mahasiswa telah sukses dengan stategi sangat brilian
menduduki tahta tertinggi dalam sebuah partai politik penguasa pemenang
mayoritas pemilu tahun 2009 lalu. Ialah Anas Urbanigrum, tokoh muda sekaligus
icon perjuangan pemuda di zamannya telah sukses menduduki kursi ketua umum
Partai Demokrat dengan sangat meyakinkan, sayang sekali telah berakhir dengan ending yang tidak manis.
Sejumlah
spekulasi pun muncul, salah-benarkah Anas, atau politik konspirasi globalkah
itu? Meskipun sampai hari ini Anas Urbaningrum tetap konsisten mengatakan
dirinya sebagai korban keganasan politik, tetapi faktanya Anas tetap saja di
buih KPK bahkan jatuh vonis. Sehingga makin terang-benderanglah pembacaan
publik, bahwa politisi muda itu benar telah mengkhianati Negara dengan korupsi
meski beberapa kolega dan ribuan fans fanalitiknya di organisasi tempat Ia
lahir tidak rela.
Anas
bukanlah satu-satunya insan muda yang berakhir dengan pencapaian tinggi dan finish di garis yang mengerikan,
sejumlah intelektual muda yang terbilang sukses merebut kekuasaan di republik
ini acap kali menjadi catatan hitam sejarah, sebut saja dengan istilah “pelacur
intelektual” yang memperkaya diri dengan menjual kepiawaian memainkan citra dan
taktis politiknya atas nama rakyat. Akan tetapi, beliau (Anas) telah terlanjur
membawa icon perlawanan dan perjuangan pemuda di zamannya, sehingga patut
menjadi renungan menarik bagi kaum muda yang bergelut dan akan bergelut di
gelanggang perpolitikan agar mawas diri, lebih berhati-hati membawa misi dan
icon perjuangan idealisme agar kepercayaan publik yang sudah begitu manis tidak
berbuah pahit, sedang ribuan pertanyaan-pertanyaan semakin mengkristal
kepermukaan; Kaum Muda di Pentas Politik, Apakah Berkah atau justru Bencana?

